Selasa, 24 Januari 2012

ABAAAAAANG!!!


Pernah kebayang nggak, seandainya istrimu atau anakmu atau suamimu harus bayar mahal, hanya sekedar buat bernapas saja. Dan kamu harus secepatnya memutuskan, membayar biaya bernapas, tapi membiarkan keluargamu kelaparan, atau mempertahankan kelangsungan hidup keluarga, dengan konsekuensi membiarkan orang yang engkau sayangi berhenti bernapas?

Keputusan sulit bukan?

Nah, keputusan seperti ini dihadapi setiap hari oleh keluarga odapus.

Buat odapus, obat adalah kebutuhan utama. Bukan buat menyembuhkan, tapi sekedar buat meneruskan hidup hari ini saja. Supaya daya tahan tubuh yang mengganas bisa jinak dan tidak menyerang organ tubuh sendiri. Karena SLE (Systemic Lupus Erythematosus) adalah kondisi di mana daya tahan tubuh menyerang organ tubuh penting kita sendiri. Bila obat dihentikan, hampir bisa dipastikan akibatnya akan fatal, bisa mengakibatkan kerusakan organ bahkan kematian. Memang ketergantungan akan obat bisa dihentikan dan odapus bisa berhenti minum obat, tapi itu dalam jangka yang lama, dan dengan perjuangan yang berat. Tidak bisa dihentikan tiba-tiba. Harus step-by-step dan berhati-hati. Dalam waktu berbulan-bulan dosis cuma turun seuprit, itu pun kalau turun. Dan kalau salah penanganan sedikit saja, zuuuut, dosis langsung naik lagi tidak tanggung-tanggung, dan odapus harus menurunkan pelahan-lahan lagi.

Jadi mau tidak mau, setiap odapus pasti mengalami bertahun-tahun minum obat secara terus menerus.

Tapi bukan minum obatnya itu yang berat.

Yang berat adalah, mencari biaya untuk membeli obat-obatan yang harus diminum dalam jangka panjang itu. Terutama karena obat-obatan odapus tergolong mahal, dan tidak disubsidi oleh pemerintah. Jadi harus membayar mahal tiap bulannya sekedar untuk meneruskan hidup.

Kebayang kan kalau anggota keluarga Anda odapus? Harus menyisihkan sebagian besar budget bulanan hanya untuk mempertahankan hidup anggota keluarga Anda. Dan kalau Anda termasuk berpenghasilan rendah, Anda pun harus berhitung, beli makan untuk seluruh keluarga, atau beli obat untuk si odapus saja. Itu sebabnya banyak odapus meninggal bukan karena sakitnya tidak bisa diatasi, tapi karena tidak punya uang untuk membeli obat untuk mengatasi penyakitnya itu. Kematian menjadi pilihan satu-satunya karena memang tidak ada pilihan yang lain.

Kecuali ada yang mau mengulurkan tangan dan menolong.

Tapi siapa?

Salah satunya, pemerintah. Misalnya bersedia memberi subsidi untuk obat-obat pokok buat odapus, sehingga obat-obatannya menjadi murah dan terjangkau. Tapi realistik aja lah. Mengharapkan pemerintah sekarang peduli pada odapus? Banyak masalah yang masih mengantri untuk dipedulikan.

Jadi siapa yang harus mengulurkan tangan?

Ya kita semua.

Pasti di sekitar Anda ada odapus. Mungkin tetangga yang tidak pernah keluar rumah karena memang odapus rentan terhadap sinar matahari, atau teman kerja yang kelihatan malas, tapi sebetulnya karena berusaha tidak kecapekan, lagi-lagi karena odapus juga rentan terhadap stress dan capek. Tidak usah yang bombastis seperti merogoh kantong. Cukup dengan memberi pengertian terhadap mereka. Dengan tidak mencibir saat mereka bekerja mencicil sedikit-sedikit atau mengatai mereka malas. Atau membuka pintu mobil memberi tumpangan supaya mereka nggak kecapekan di jalan. Diturunkan di jalan terdekat dengan rumah pun pasti mereka sudah berterima kasih. Atau dengan lebih fleksibel dan mau menyesuaikan diri kalau janjian dengan mereka, karena mereka bisa tiba-tiba kumat dan tidak bisa bangun dari tempat tidurnya.

Dengan melakukan hal yang ringan ini saja, Anda sudah bisa mengurangi kemungkinan mereka kumat, sehingga obat yang harus diminumnya pun semakin sedikit.

Atau, kalau mau mengulurkan tangan lebih jauh, bisa bergabung di group FB para odapus seperti Sahabat Sejati Odapus, Pemerhati Lupus, Yayasan Lupus Indonesia, dll. Paling nggak, bisa merasakan lebih real, melihat mereka yang kita kenal satu demi satu pergi dan tidak bisa mengisi status lagi di FB-nya. Lebih dari itu, Anda bisa memberi mereka semangat, menjadi tempat curhat atau menjadi tempat berbagi akan penderitaan mereka. Sukur-sukur bisa membantu mereka kalau mereka butuh teman, butuh tumpangan ke dokter, atau membantu jadi panitia sosialisasi Lupus di tempat Anda.

Eh, tapi jangan mengira Anda akan bertemu dengan orang-orang cengeng, lemah atau pesimistis di sini. Barangkali Anda justru akan kaget melihat optimistis dan kuatnya odapus di sini. Bisa-bisa justru Anda yang dikuatkan, dan banyak belajar di sini. Berhadapan dengan maut, membuat para odapus tidak takut. Mereka menghadapi penyakitnya dengan gigih, berani dan dengan selera humor yang tinggi. Mereka biasa menyebut Lupus dengan luppie, kalau lagi kumat mereka bilang lupusnya lagi genit, bahkan menyebut obat-obatan sebagai permen.

Lho, kalau mereka begitu kuat, kenapa butuh pertolongan kita?

Karena bahaya yang mereka hadapi itu nyata. Dan mahalnya pengobatan Lupus itu juga bukan sesuatu yang maya. Kalau bukan kita sendiri yang menolong mereka, siapa lagi? Bukankan merupakan keistimewaan buat kita bila Tuhan YME memberi kita kesempatan untuk mengenal dan menolong mereka? Memang mereka kuat, optimis dan lucu, tapi apakah semua itu cukup? Bukankan mereka juga memerlukan rangkulan tangan kita, doa yang tidak putus-putusnya buat mereka setiap hari dan telinga yang bersedia mendengar keluhan mereka?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar